Minggu, 11 Maret 2012

Pengertian Persalinan


Persalinan
1.   Pengertian Persalinan
           Persalinan adalah suatu proses saat janin dan produk konsepsi dikeluarkan sebagai akibat kontraksi teratur, progresif, sering dan kuat (Barbara, 2009).
         Persalinan adalah klimaks dari kehamilan dimana berbagai sistem yang nampaknya tidak saling berhubungan bekerja dalam keharmonisan untuk melahirkan bayi. (Manuaba, 2008).
       Persalinan dan kelahiran adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup bulan (37-42 minggu), lahir spontan dengan presentasi belakang kepala yang berlangsung selama 18 jam, tanpa komplikasi baik ibu maupun janin. (Saifudin, 2001).
Persalinan normal WHO adalah persalinan yang dimulai secara spontan beresiko rendah pada awal persalinan dan tetap demikian selama proses persalinan, bayi dilahirkan spontan dengan presentasi belakang kepada pada usia kehamilan antara 37 hingga 42 minggu lengkap. Setelah persalinan ibu dan bayi dalam keadaan baik.
Berdasarkan pengertian diatas maka dapat disimpulkan bahwa persalinan adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup bulan (37-42 minggu), lahir spontan dengan presentasi belakang kepala yang berlangsung selama 18 jam produk konsepsi dikeluarkan sebagai akibat kontraksi teratur, progresif, sering dan kuat yang nampaknya tidak saling berhubungan bekerja dalam keharmonisan untuk melahirkan bayi.

2.   Bentuk-Bentuk Persalinan
a)      Persalinan spontan
Proses lahirnya bayi dengan tenaga ibu sendiri tanpa bantuan alat-alat serta tidak melukai ibu dan bayi yang umumnya berlangsung kurang dari 24 jam.
b)      Persalinan Bantuan
Proses persalinan yang di bantu dengan tenaga dari luar misalnya ekstraksi dengan forsep atau dilakukan operasi seksio caesaria.
c)      Persalinan Anjuran
Pada umumnya persalinan terjadi bila sudah besar untuk hidup di luar, tetapi sedemikian besarnya sehingga menimbulkan kesulitan dalam persalinan, kadang-kadang persalinan tidak di mulai dengan sendirinya tetapi baru berlangsung setelah pemecahan ketuban, pemberian pitocin atau prostaglandin.



3.      Tanda-Tanda Persalinan
Tanda persalinan dikategorikan sebagai tanda kemungkinan, tanda awal dan tanda positif. Kategori ini membantu memutuskan kapan ibu benar-benar mengalami persalinan. Perhatikan bahwa tidak semua tanda ini mungkin di alami dan bahwa tanda-tanda tersebut tidak harus terjadi berurutan.
a)      Tanda Kemungkinan Persalinan
Tanda kemungkinan persalinan adalah bisa atau tidak menjadi awal dari persalinan, waktu akan menentukan.
1)      Sakit pinggang
Nyeri yang merasa, ringan, mengganggu dapat hilang timbul dapat disebabkan oleh kontraksi dini.
2)      Kram pada perut bagian bawah
Seperti kram menstruasi, dapat disertai rasa nyaman di paha. Dapat terus menerus atau terputus.
3)      Tinja yang lunak
Buang air beberapa kali dalam beberapa jam, dapat disertai dengan kram perut atau gangguan pencernaan
4)      Desakan untuk bebenah
Lonjakan energi yang mendadak menyebabkan anda banyak melakukan aktivitas ekstra ini sebagai tanda bahwa mempunyai kekuatan dan stamina untuk menjalani persalinan, cobalah menghindari aktifitas yang melelahkan.
b)      Tanda Awal Persalinan
1)      Kontraksi yang tidak berkembang
Kontraksi cenderung mempunyai panjang kekuatan dan frekuensi yang sama. Kontraksi pra persalinan ini dapat berlangsung singkat atau terus menerus selama beberapa jam sebelum berhenti atau terus menerus selama beberapa jam sebelum berhenti atau mulai berkembang.
Menyebabkan pelunakan dan penipisan dari leher rahim, meskipun sebagian besar pembukaan belum terjadi sampai nanti anda mengalami tanda positif.
2)      Keluar darah
Aliran lendir yang bernoda darah dari vagina. Dikaitkan dengan penipisan dan pembukaan awal dari leher rahim, dapat berlangsung beberapa hari sebelum tanda lain atau baru muncul setelah kontraksi persalinan yang berkembang dimulai, berlanjut sepanjang persalinan.
3)      Rembesan cairan ketuban dari vagina
Disebabkan oleh robekan kecil pada membran (ROM). Kadang-kadang bila membran timbul selama berjam-jam atau berhari-hari.  


           
4.   Tanda Positif Persalinan
a.       Kontraksi yang berkembang
Menjadi lebih lama, lebih kuat, dan atau lebih dekat  jaraknya bersama dengan jalannya waktu, biasa disebut “sakit” atau “sangat kuat” dan terasa didaerah perut pinggang atau keduanya.
Leher rahim yang melebar ini, tidak berkurang oleh aktifitas yang dilakukan oleh calon ibu dan tidak mereda karena perubahan aktifitas, gunakan catatan persalinan awal untuk menentukan pola kontraksi.
b.      Aliran cairan ketuban yang deras dari vagina
Disebabkan oleh robekan membran yang besar (ROM). Sering disertai atau segera diikuti dengan kontraksi yang berkembang. Tanda ini tidak dirasa oleh calon ini, tetapi dapat dilihat pada pemeriksaan vagina.

5.   Fakor- Faktor Yang Penting Dalam Persalinan
a.    Power (tenaga/kekuatan)
b.   HIS (kontraksi otot rahim), kontraksi otot dinding perut, kontraksi diagfragma pelvis atau kekuatan mengejan, ketegangan ligamentum rotundum.
c.    Pasanger (Janin)
d.   Janin dan placenta
e.    Passage (Jalan lahir)
f.    Jalan lahir yang lunak (otot-otot, jaringan-jaringan, dan ligament-ligament) dan jalan lahir tulang. (Manuaba, 2008).

  1. Proses Persalinan (Barbara, 2005)
a.       Kala I persalinan (kala pembukaan)
Partus dimulai dengan kontraksi yang teratur, yang menyebabkan dilatasi dan penipisan servic yang progresif, kala satu yang berakhir bila servik menipis dan dilatasi lengkap kala satu terdiri dari fase laten, aktif dan transisi.
Proses pembukaan serviks sebagai akibat his dibagi dalam tiga fase:
1)      Fase laten
Fase ini mulai dengan kontraksi yang teratur dan penipisan serta dilatasi serviks 3 cm sampai 4 cm. Fase ini berlangsung rata-rata 6,4 jam untuk nulipara dan 4,8 jam untuk multipara. Kontraksi meningkat menjadi lebih kuat dan lebih sering.
2)      Fase aktif
Dilatasi berlanjut dari 3-4 cm menjadi 7 cm. Kontraksi menjadi lebih kuat, lebih sering, lebih lama, dan lebih sakit.
3)      Fase transisi
Puncak dari kala satu adalah fase transisi saat serviks berdilatasi dari 8 sampai 10 cm intensitas, frekuensi dan lamanya kontraksi memuncak, dan ada keinginan untuk mengejan yang tidak dapat tertahan.
b.      Kala II persalinan (kala pengeluaran)
Kala dua dimulai dari dilatasi lengkap serviks dan berakhir dengan kelahiran bayi. Durasi dapat berbeda antara primipara dengan multipara, tetapi kala ini seharusnya selesai 1 jam setelah dilatasi lengkap.
Kontraksi kuat dengan interval 2 sampai 3 menit, dengan durasi 50 sampai 90 detik.
Bayi baru lahir keluar dari jalan lahir dengan bantuan gerakan-gerakan atau mekanisme utama persalinan berikut ini:
1)      Turun
2)      Fleksi
3)      Rotasi internal
4)      Pengeluaran
5)      “crowning” terjadi pada saat kepala bayi tampak pada lubang vagina.
6)      Episiotomi (insisi bedah pada perineum) bisa dilakukan untuk mempermudah kelahiran dan menghindari laserisasi pada perineum.
c.       Kala III (kala placenta)
Kala ini di mulai dengan kelahiran bayi dan berakhir dengan kelahiran placenta, kala tiga terjadi dalam dua fase pelepasan placenta dan pengeluaran placenta.
Tanda pelepasan plasenta meliputi uterus menjadi globuler, fundus naik ke abdomen, tali pusat memanjang dan peningkatan perdarahan (mengalir pelan atau mengalir deras).
Pada umumnya, obat-obatan oksitosin diberikan untuk membantu kontraksi uterus.
d.      Kala IV (pemulihan dan hubungan interaksi)
Kala ini berlangsung dari 1 sampai 4 jam kelahiran. Ibu dan bayi pulih dari proses fisik kelahiran. Organ-organ ibu mengalami penyesuaian awal kembali keadaan sebelum hamil.
Sistem tubuh bayi baru lahir mulai menyesuaikan diri dengan kehidupan ekstra uterin dan menjadi stabil.
Uterus berkontraksi di garis tengah abdomen dengan pertengahan fundus di antara umbilicus dan simfisis pubis.
e.       Partograf
Adalah alat bantu yang digunakan selama fase aktif persalinan untuk mencatat hasil observasi dan kemajuan persalinan serta mendeteksi apakah persalinan untuk persalinan berjalan secara normal sehingga dapat melakukan deteksi secara dini setiap kemungkinan yang terjadi dan selanjutnya dapat diambil keputusan klinik (Saefuddin, 2002)
Untuk menggunakan partograf  dengan benar, petugas harus mencatat kondisi ibu dan janin sebagai berikut :
1)   Denyut jantung janin, dicatat setiap setengah jam per 30 menit.
2)   Air ketuban, catat warna air ketuban setiap melakukan pemeriksaan vagina
a)U, Selaput utuh
b)         J, Selaput pecah, air ketuban jernih
c)M, Air ketuban bercampur mekonum
d)        D, Air ketuban bernoda darah.
3)      Perubahan bentuk kepala janin (molding atau molase)
a)O, Sutura terpisah
b)         1, Sutura (pertemuan dua tengkorak) yang tepat atau bersesuaian
c)2, Sutura tumpang tindih tetapi dapat diperbaiki
d)        3, Sutura tumpang tindih dan tidak dapat diperbaiki
4)      Pembukaan mulut rahim (serviks) di nilai pada setiap pemeriksaan pervagina dan diberi tanda silang (X)
5)      Penurunan, mengacu pada bagian kepala (dibagi 5 bagian) yang teraba (pada pemeriksaan abdomen/luar) diatas simpisis pubis, catat dengan tanda lingkaran (o) pada setiap pemeriksaan dalam pada posisi 0/5, sinsiput (S) atau paruh atas kepala berada di simpisis pubis.
6)      Waktu, menyatakan berapa jam waktu yang telah di jalani sesudah di terima.
7)      Jam, catat jam sesungguhnya.
8)      Kontraksi, catat setiap setengah jam, lakukan palpasi untuk menghitung banyaknya kontraksi dalam 10 menit dan lamanya masing-masing kontraksi dalam hitungan detik.

7.                                                Teori Persalinan
Beberapa teori yang memungkinkan terjadinya persalinan (Sumarah dkk, 2008:3-4).
a.    Teori Keregangan
Otot rahim mempunyai kemampuan meregang dalam batas tertentu. Setelah melewati batas tersebut terjadi kontraksi sehingga persalinan dapat dimulai. Keadaan uterus yang teres membesar dan menjadi tegang mengakibatkan iskemia otot-otot uterus.
b.   Teori Penurunan Progesteron
Proses penuaan plasenta terjadi mulai umur kehamilan 28 minggu, dimana terjadi penimbunan jaringan ikat, pembuluh darah mengalami penyempitan dan buntu.
c.    Teori Oksitosin Internal
Oksitosin dikeluarkan oleh kelenjar hipofise parst posterior. Perubahan keseimbangan estrogen dan progesteron dapat mengubah sensivitas otot rahim, sehingga terjadi kontraksi brakston hiks.
d.   Teori Protaglandin
Konsetrasi prostaglandin meningkat sejak umur kehamilan 15 minggu, yang dikeluarkan oleh desidua. Pemberian prostaglandin pada saat hamil dapat menimbulkan kontraksi otot rahim sehingga terjadi persalinan.
e.    Teori Hipotalamus-Pituitari Dan Gandula Supranalis
Teori ini menunjukkan pada kehamilan anensefalus sering terjadi keterlambatan persalinan karena tidak terbentuk hipotalamus.
f.    Teori Berkurangnya Nutrisi
Berkurangnya nutrisi pada janin dikemukakan oleh Hippokrates untuk pertama kalinya. Bila nutrisi pada janin berkurang makan hasil konsepsi akan segera dikeluarkan.
g.   Faktor Lain
Tekanan ganglion servikale dari  pleksus frankenhauser yang terletak dibelakang serviks. Bila ganglion ini ditekan, maka kontraksi uterus dapat dibandingkan.  

B . Retensio Plasenta
1.   Pengertian Retensio Plasenta
Istilah retensio plasenta dipergunakan jika plasenta belum lahir ½ jam sesudah anak lahir. (Sastrawinata, 2008:174)
Pengertian tersebut juga dikuatkan oleh Winkjosastro (2006:656) yang menyebutkan retensio plasenta adalah apabila plasenta belum lahir setangah jam setelah janin lahir.
 Retensio plasenta adalah belum lepasnya plasenta dengan melebihi waktu setengah jam. Keadaan ini dapat diikuti perdarahan yang banyak, artinya hanya sebagian plasenta yang telah lepas sehingga memerlukan tindakan plasenta manual dengan segera. Bila retensio plasenta tidak diikuti perdarahan maka perlu diperhatikan ada kemungkinan terjadi plasenta adhesive, plasenta akreta, plasenta inkreta, plasenta perkreta. (Manuaba (2006:176).
Plasenta inkarserata artinya plasenta telah lepas tetapi tertinggal dalam uterus karena terjadi kontraksi di bagian bawah uterus atau uteri sehingga plasenta tertahan di dalam uterus. (Manuaba (2006:176).
Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa retensio plasenta ialah plasenta yang belum lahir dalam setengah jam setelah janin lahir, keadaan ini dapat diikuti perdarahan yang banyak, artinya hanya sebagian plasenta yang telah lepas sehingga memerlukan tindakan plasenta manual dengan segera.
Plasenta yang belum lahir dan masih melekat di dinding rahim oleh karena kontraksi rahim kurang kuat untuk melepaskan plasenta disebut plasenta adhesiva. Plasenta yang belum lahir dan masih melekat di dinding rahim oleh karena villi korialisnya menembus desidua sampai miometrium disebut plasenta akreta. Plasenta yang sudah lepas dari dinding rahim tetapi belum lahir karena terhalang oleh lingkaran konstriksi di bagian bawah rahim disebut plasenta inkarserata.
Perdarahan hanya terjadi pada plasenta yang sebagian atau seluruhnya telah lepas dari dinding rahim. Banyak atau sedikitnya perdarahan tergantung luasnya bagian plasenta yang telah lepas dan dapat timbul perdarahan. Melalui periksa dalam atau tarikan pada tali pusat dapat diketahui apakah plasenta sudah lepas atau belum dan bila lebih dari 30 menit maka kita dapat melakukan plasenta manual. (Sulisetiya.blogspot.com/2010/03).
Retensio plasenta (Placental Retention) merupakan plasenta yang belum lahir dalam setengah jam setelah janin lahir. Sedangkan sisa plasenta (rest placenta) merupakan tertinggalnya bagian plasenta dalam rongga rahim yang dapat menimbulkan perdarahan postpartum dini (Early Postpartum Hemorrhage) atau perdarahan post partum lambat (Late Postpartum Hemorrhage) yang biasanya terjadi dalam 6-10 hari pasca persalinan. (http:/ratihrochmat.wordpress.com/2009/05/22).

2.   Penyebab Retensio Plasenta
Penyebab Retentio Plasenta menurut Sastrawinata (2006:174) adalah:
a.    Fungsional:
1)      His kurang kuat (penyebab terpenting)
2)      Plasenta sukar terlepas karena tempatnya (insersi di sudut tuba); bentuknya (plasenta membranasea, plasenta anularis); dan ukurannya (plasenta yang sangat kecil).
Plasenta yang sukar lepas karena penyebab di atas disebut plasenta adhesive.
b.   Patologi – anatomi:
1)      Plasenta akreta
2)      Plasenta inkreta
3)      Plasenta perkreta
Sebab-sebabnya plasenta belum lahir bisa oleh karena:
a)      Plasenta belum lepas dari dinding uterus;
b)      Plasenta sudah lepas, akan tetapi belum dilahirkan.
Apabila plasenta belum lahir sama sekali, tidak terjadi perdarahan; jika lepas sebagian, terjadi perdarahan yang merupakan indikasi untuk mengeluarkannya.
Plasenta belum lepas dari dinding uterus karena:
kontraksi uterus kurang kuat untuk melepaskan plasenta (plasenta adhesiva); plasenta melekat erat pada dinding uterus oleh sebab vili korialis menembus desidua sampai miometrium- sampai di bawah peritoneum (plasenta akreta-perkreta).
Plasenta yang sudah lepas dari dinding uterus akan tetapi belum keluar, disebabkan oleh tidak adanya usaha untuk melahirkan atau karena salah penanganan kala III, sehingga terjadi lingkaran konstriksi pada bagian bawah uterus yang menghalangi keluarnya plasenta (inkarserasio plasenta). (http://ratihrochmat.wordpress.com/2009/05/22).
Menurut Manuaba (2006:301) kejadian retensio plasenta berkaitan dengan:
a)      Grandemultipara dengan implantasi plasenta dalam bentuk plasenta adhesive, plasenta akreta, plasenta inkreta, dan plasenta perkreta.
b)      Mengganggu kontraksi otot rahim dan menimbulkan perdarahan.
c)      Retensio plasenta tanpa perdarahan dapat diperkirakan:
-          Darah penderita terlalu banyak hilang
-          Keseimbangan baru berbentuk bekuan darah, sehingga perdarahan tidak terjadi
-          Kemungkinan implantasi plasenta terlalu dalam
Plasenta manual dengan segera dilakukan:
-          Terdapat riwayat perdarahan postpartum berulang
-          Terjadi perdarahan postpartum berulang
-          Pada pertolongan persalinan dengan narkosa
-          Plasenta belum lahir setelah menunggu selama setengah jam

3.      Anatomi
Plasenta berbentuk bundar atau hampir bundar dengan diameter 15 sampai 20 cm dan tebal lebih kurang 2.5 cm. Beratnya rata-rata 500 gram. Tali-pusat berhubungan dengan plasenta biasanya di tengah (insertio sentralis).
Umumnya plasenta terbentuk lengkap pada kehamilan lebih kurang 16 minggu dengan ruang amnion telah mengisi seluruh kavum uteri. Bila diteliti benar, maka plasenta sebenarnya berasal dari sebagian besar dari bagian janin, yaitu vili koriales yang berasal dari korion, dan sebagian kecil dari bagian ibu yang berasal dari desidua basalis.
Darah ibu yang berada di ruang interviller berasal dari spiral arteries yang berada di desidua basalis. Pada sistole darah disemprotkan dengan tekanan 70-80 mmHg seperti air mancur ke dalam ruang interviller sampai mencapai chorionic plate, pangkal dari kotiledon-kotiledon janin. Darah tersebut membasahi semua vili koriales dan kembali perlahan-lahan dengan tekanan 8 mmHg ke vena-vena di desidua.
Plasenta berfungsi: sebagai alat yang memberi makanan pada janin, mengeluarkan sisa metabolisme janin, memberi zat asam dan mengeluarkan CO2, membentuk hormon, serta penyalur berbagai antibodi ke janin.

4.      Jenis Dari Retensio Plasenta
Jenis dari retensio plasenta adalah tertahannya atau belum lahirnya plasenta hingga atau melebihi waktu 30 menit setelah bayi lahir (Prawirohardjo, 2002)
Jenis retensio plasenta :
a)      Plasenta adhesiva adalah implantasi yang kuat dari jonjot korion plasenta sehingga menyebabkan kegagalan mekanisme separasi fisiologis.
b)      Plasenta akreta adalah implantasi jonjot korion plasenta hingga memasuki sebagian lapisan miomentrium.
c)      Plasenta inkreta adalah implantasi jonjot korion plasenta hingga mencapai/memasuki miomentrium.
d)     Plasenta perkreta adalah implantasi jonjot korion plasenta yang
menembus lapisan otot hingga mencapai lapisan serosa dinding uterus.
e)      Plasenta inkaserata adalah tertahannya plasenta didalam kavum uteri, disebabkan oleh konstriksi ostium uteri.

5.      Etiologi Dan Patogenesis
Setelah bayi dilahirkan, uterus secara spontan berkontraksi. Kontraksi dan retraksi otot-otot uterus menyelesaikan proses ini pada akhir persalinan. Sesudah berkontraksi, sel miometrium tidak relaksasi, melainkan menjadi lebih pendek dan lebih tebal. Dengan kontraksi yang berlangsung kontinyu, miometrium menebal secara progresif, dan kavum uteri mengecil sehingga ukuran juga mengecil. Pengecilan mendadak uterus ini disertai mengecilnya daerah tempat perlekatan plasenta.
Ketika jaringan penyokong plasenta berkontraksi maka plasenta yang tidak dapat berkontraksi mulai terlepas dari dinding uterus. Tegangan yang ditimbulkannya menyebabkan lapis dan desidua spongiosa yang longgar memberi jalan, dan pelepasan plasenta terjadi di tempat itu. Pembuluh darah yang terdapat di uterus berada di antara serat-serat otot miometrium yang saling bersilangan. Kontraksi serat-serat otot ini menekan pembuluh darah dan retaksi otot ini mengakibatkan pembuluh darah terjepit serta perdarahan berhenti.
Pengamatan terhadap persalinan kala tiga dengan menggunakan pencitraan ultrasonografi secara dinamis telah membuka perspektif baru tentang mekanisme kala tiga persalinan. Kala tiga yang normal dapat dibagi ke dalam 4 fase, yaitu:
1)            Fase laten, ditandai oleh menebalnya dinding uterus yang bebas tempat plasenta, namun dinding uterus tempat plasenta melekat masih tipis.
2)            Fase kontraksi, ditandai oleh menebalnya dinding uterus tempat plasenta melekat (dari ketebalan kurang dari 1 cm menjadi > 2 cm).
3)            Fase pelepasan plasenta, fase dimana plasenta menyempurnakan pemisahannya dari dinding uterus dan lepas. Tidak ada hematom yang terbentuk antara dinding uterus dengan plasenta. Terpisahnya plasenta disebabkan oleh kekuatan antara plasenta yang pasif dengan otot uterus yang aktif pada tempat melekatnya plasenta, yang mengurangi permukaan tempat melekatnya plasenta. Akibatnya sobek di lapisan spongiosa.
4)            Fase pengeluaran, dimana plasenta bergerak meluncur. Saat plasenta bergerak turun, daerah pemisahan tetap tidak berubah dan sejumlah kecil darah terkumpul di dalam rongga rahim. Ini menunjukkan bahwa perdarahan selama pemisahan plasenta lebih merupakan akibat, bukan sebab. Lama kala tiga pada persalinan normal ditentukan oleh lamanya fase kontraksi. Dengan menggunakan ultrasonografi pada kala tiga, 89% plasenta lepas dalam waktu satu menit dari tempat implantasinya. Tanda-tanda lepasnya plasenta adalah sering ada semburan darah yang mendadak, uterus menjadi globuler dan konsistensinya semakin padat, uterus meninggi ke arah abdomen karena plasenta yang telah berjalan turun masuk ke vagina, serta tali pusat yang keluar lebih panjang. Sesudah plasenta terpisah dari tempat melekatnya maka tekanan yang diberikan oleh dinding uterus menyebabkan plasenta meluncur ke arah bagian bawah rahim atau atas vagina. Kadang-kadang, plasenta dapat keluar dari lokasi ini oleh adanya tekanan inter-abdominal. Namun, wanita yang berbaring dalam posisi terlentang sering tidak dapat mengeluarkan plasenta secara spontan. Umumnya, dibutuhkan tindakan artifisial untuk menyempurnakan persalinan kala IV. Metode yang biasa dikerjakan adalah dengan menekan secara bersamaan dengan tarikan ringan pada tali pusat.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pelepasan plasenta:
Kelainan dari uterus sendiri, yaitu anomali dari uterus atau serviks; kelemahan dan tidak efektifnya kontraksi uterus, kontraksi yang kuat dari uterus, serta pembentukan constriction ring. Kelainan dari plasenta, misalnya plasenta letak rendah atau plasenta previa dan adanya plasenta akreta. Kesalahan manajemen kala tiga persalinan, seperti manipulasi dari uterus yang tidak perlu sebelum terjadinya pelepasan dari plasenta menyebabkan kontraksi yang tidak ritmik, pemberian uterotonik yang tidak tepat waktunya yang juga dapat menyebabkan serviks kontraksi dan menahan plasenta; serta pemberian anestesi terutama yang melemahkan kontraksi uterus.

6.      Gejala Klinis
a.       Anamnesis, meliputi pertanyaan tentang periode prenatal, meminta informasi mengenai episode perdarahan postpartum sebelumnya, paritas, serta riwayat multipel fetus dan polihidramnion. Serta riwayat pospartum sekarang dimana plasenta tidak lepas secara spontan atau timbul perdarahan aktif setelah bayi dilahirkan.
b.      Pada pemeriksaan pervaginam, plasenta tidak ditemukan di dalam kanalis servikalis tetapi secara parsial atau lengkap menempel di dalam uterus.

7.      Pemeriksaan Penunjang
a)      Hitung darah lengkap: untuk menentukan tingkat hemoglobin (Hb) dan hematokrit (Hct), melihat adanya trombositopenia, serta jumlah leukosit. Pada keadaan yang disertai dengan infeksi, leukosit biasanya meningkat.
b)      Menentukan adanya gangguan koagulasi dengan hitung Protrombin Time (PT) dan Activated Partial Tromboplastin Time (APTT) atau yang sederhana dengan Clotting Time (CT) atau Bleeding Time (BT). Ini penting untuk menyingkirkan perdarahan yang disebabkan oleh faktor lain.
8.      Diagnosa Banding
Meliputi plasenta akreta, suatu plasenta abnormal yang melekat pada miometrium tanpa garis pembelahan fisiologis melalui garis spons desidua.

9.      Penatalaksanaan
Penanganan retensio plasenta atau sebagian plasenta adalah:
a.       Resusitasi. Pemberian oksigen 100%. Pemasangan IV-line dengan kateter yang berdiameter besar serta pemberian cairan kristaloid (sodium klorida isotonik atau larutan ringer laktat yang hangat, apabila memungkinkan). Monitor jantung, nadi, tekanan darah dan saturasi oksigen. Transfusi darah apabila diperlukan yang dikonfirmasi dengan hasil pemeriksaan darah.
b.      Drips oksitosin (oxytocin drips) 20 IU dalam 500 ml larutan Ringer laktat atau NaCl 0.9% (normal saline) sampai uterus berkontraksi.
c.       Plasenta coba dilahirkan dengan Brandt Andrews, jika berhasil lanjutkan dengan drips oksitosin untuk mempertahankan uterus.
d.      Jika plasenta tidak lepas dicoba dengan tindakan manual plasenta. Indikasi manual plasenta adalah: Perdarahan pada kala tiga persalinan kurang lebih 400 cc, retensio plasenta setelah 30 menit anak lahir, setelah persalinan buatan yang sulit seperti forsep tinggi, versi ekstraksi, perforasi, dan dibutuhkan untuk eksplorasi jalan lahir, tali pusat putus.
e.       Jika tindakan manual plasenta tidak memungkinkan, jaringan dapat dikeluarkan dengan tang (cunam) abortus dilanjutkan kuretage sisa plasenta. Pada umumnya pengeluaran sisa plasenta dilakukan dengan kuretase. Kuretase harus dilakukan di rumah sakit dengan hati-hati karena dinding rahim relatif tipis dibandingkan dengan kuretase pada abortus.
f.       Setelah selesai tindakan pengeluaran sisa plasenta, dilanjutkan dengan pemberian obat uterotonika melalui suntikan atau per oral.
g.      Pemberian antibiotika apabila ada tanda-tanda infeksi dan untuk pencegahan infeksi sekunder. (Sulisetiya.blogspot.com/2010/03).

10.   Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi meliputi:
a.    Komplikasi yang berhubungan dengan transfusi darah yang dilakukan.
b.   Multiple organ failure yang berhubungan dengan kolaps sirkulasi dan penurunan perfusi organ.
c.    Sepsis
d.   Kebutuhan terhadap histerektomi dan hilangnya potensi untuk memiliki anak selanjutnya.

  1. Terapi
Jika plasenta dalam ½ jam setelah anak lahir belum memperlihatkan gejala-gejala perlepasan, dilakukan plasenta manual. Telah dijelaskan bahwa jika ada perdarahan banyak, mungkin plasenta dilepaskan secara manual lebih dahulu. Akan tetapi, dalam hal ini atas indikasi perdarahan, bukan atas indikasi retensio plasenta.
         Teknik pelepasan plasenta secara manual adalah vulva didesinfeksi begitu pula tangan dan lengan bawah si penolong.
Setelah tangan memakai sarung tangan, labia dibuka dan tangan kanan masuk secara obstetrik ke dalam vagina. Tangan luar menahan fundus uteri. Tangan dalam sekarang menyusuri tali pusat, yang sedapat-dapatnya diregangkan oleh asisten. Setelah tangan dalam sampai ke plasenta, tangan pergi ke pinggir  plasenta dan sedapat-dapatnya mencari pinggir yang sudah terlepas. Kemudian dengan sisi tangan sebelah kelingking, plasenta dilepaskan antara bagian plasenta yang sudah terlepas dan dinding rahim dengan gerakan yang sejajar dinding rahim.
Setelah plasenta terlepas seluruhnya, plasenta dipegang dan dengan perlahan-lahan ditarik keluar.

C.    Manajemen Kebidanan Menurut Langkah Helen Varney
  1. Pengertian
Manajemen kebidanan adalah proses pemecahan masalah yang digunakan sebagai metode untuk mengorganisasikan pikiran dan tindakan berdasarkan terori ilmiah, temuan, keterampilan dalam rangkaian/tahapan yang logis untuk mengambil suatu keputusan yang terfokus pada klien. (Salimah dkk, 2006:155).
Manajemen kebidanan adalah pendekatan yang dilakukan oleh bidan dalam memberikan asuhan kebidanan dengan menggunakan pendekatan metode pemecahan masalah. (Varney, 2008).
Manajemen kebidanan adalah bentuk pendekatan yang digunakan bidan dalam memberikan alur pikir bidan, pemecahan masalah atau pengambilan keputusan klinis. Asuhan yang dilakukan harus dicatat secara benar, sederhana, jelas, logis sehingga perlu sesuatu metode pendokumentasian. (Varney, 2008).
Manajemen kebidanan terdiri dari beberapa langkah berturut-turut yang dimulai dengan pengumpulan data dasar dan berakhir dengan evaluasi. Langkah-langkah tersebut membentuk kerangka yang lengkap yang diaplikasikan dalam semua situasi. Akan tetapi semua langkah tersebut dapat dipecah-pecah ke dalam tugas-tugas tertentu dan semuanya bervariasi sesuai dengan kondisi klien. (Salimah dkk, 2006:155).
Berdasarkan pengertian tersebut maka dapat disimpulkan, manajemen kebidanan adalah pendekatan yang dilakukan oleh bidan dalam memberikan asuhan kebidanan dengan menggunakan pendekatan metode pemecahan masalah yang digunakan sebagai metode untuk mengorganisasikan pikiran dan tindakan berdasarkan terori ilmiah, temuan, keterampilan dalam rangkaian/tahapan yang logis untuk mengambil suatu keputusan yang terfokus pada klien.


  1. Proses Manajemen Kebidanan
Menurut Varney proses manajeman kebidanan terdiri dari langkah-langkah sebagai berikut:
a.       Mengumpulkan data yang dibutuhkan untuk menilai keadaan klien secara keseluruhan
b.      Menginterprestasikan data untuk mengidentifikasi diagnosis/masalah
c.       Mengidentifikasikan diagnosis/masalah potensial dan mengantisipasi penanganannya.
d.      Menetapkan kebutuhan terhadap tindakan segera, konsultasi, kolaborasi, dengan tenaga kesehatan lain serta rujukan berdasarkan kondisi klien.
e.       Menyusun rencana asuhan secara menyeluruh dengan mengulang kembali manajemen proses untuk aspek-aspek sosial yang tidak efektif.
f.       Pelaksanaan langsung asuhan secara efisien dan aman
g.      Mengevaluasi keefektifan asuhan yang diberikan dengan mengulang kembali manajemen proses untuk aspek-aspek asuhan yang tidak efektif.
h.      Melihat penjelasan diatas maka proses manajemen kebidanan merupakan langkah sistematis yang merupakan pola pikir. Bidan dalam melaksanakan asuhan klien diharapkan menggunakan pendekatan masalah yang sistematis dan rasional, sehingga seluruh aktivitas/tindakan yang diberikan oleh bidan kepada klien akan efektif. Bidan akan terhindar dari tindakan yang bersifat coba-coba yang akan berdampak kurang baik untuk klien. Untuk kejelasan tentang uraian detail dari setiap langkah yang dirumuskan oleh Varney. (Salimah dkk, 2006:156)

3.   Tujuh Langkah Manajemen Kebidanan Menurut Varney
a.       Langkah I (Tahap Pengumpulan Data Dasar)
Pada langkah pertama ini dikumpulkan semua informasi yang akurat dan lengkap dari sumber yang berkaitan dengan kondisi klien.
Untuk memperoleh data dilakukan dengan cara:
1)                     Anamnesa
a)      Biodata
b)      Riwayat menstruasi
c)      Riwayat kesehatan
d)     Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas
e)      Biopsikososial spiritual
f)       Pengetahuan klien
2)         Pemeriksaan fisik sesuai dengan kebutuhan dan pemeriksaan tanda tanda vital
3)                     Pemeriksaan khusus
a)      Inspeksi
b)      Palpasi
c)      Auskultasi
d)     Perkusi
4)                     Pemeriksaan penunjang
a)      Laboratorium
b)      Catatan terbaru dan sebelumnya
b.      Langkah II (Insterprestasi Data Dasar)
Pada langkah ini dilakukan identifikasi terhadap diagnosis atau masalah berdasarkan interpretasi yang benar atas data-data yang telah dikumpulkan. Data dasar yang sudah dikumpulkan diinterpretasikan sehingga dapat merumuskan diagnosis dan masalah yang spesifik. Masalah sering berkaitan dengan hal-hal yang sedang dialami wanita yang diidentifikasi oleh bidan sesuai dengan hasil pengkajian. Masalah juga sering menyertai diagnosis.
c.       Langkah III (Identifikasi Diagnosis Atau Masalah Potensial)
Langkah III merupakan langkah ketika bidan melakukan identifikasi diagnosis atau masalah potensial dan mengantisipasi penanganannya.
Identifikasi diagnosis dilakukan, meliputi pertanyaan tentang periode prenatal, meminta informasi mengenai episode perdarahan postpartum sebelumnya, paritas, serta riwayat multipel fetus dan polihidramnion. Serta riwayat post partum sekarang dimana plasenta tidak lepas secara spontan atau timbul perdarahan aktif setelah bayi dilahirkan.
Pada pemeriksaan pervaginam, plasenta tidak ditemukan di dalam kanalis servikalis tetapi secara parsial atau lengkap menempel di dalam uterus.
d.      Langkah IV (Penetapan Kebutuhan Tindakan Segera)
Pada langkah ini bidan menetapkan kebutuhan terhadap tindakan segera, melakukan kontribusi, kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain berdasarkan kondisi klien. Pada langkah ini, mengidentifikasi perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter dan untuk dikonsultasikan atau ditangani bersama dengan anggota tim kesehatan yang lain sesuai dengan kondisi klien.
Langkah 4 mencerminkan kesinambungan dari proses manajemen kebidanan. Jadi, manajemen bukan hanya selama wanita tersebut bersama bidan terus menerus, misalnya pada waktu wanita tersebut dalam persalinan.
e.       Langkah V (Penyusunan Rencana Asuhan Menyeluruh)
Pada langkah ini direncanakan asuhan yang menyeluruh yang ditentukan berdasarkan langkah-langkah sebelumnya. Langkah ini merupakan kelanjutan manajeman terhadap masalah atau diagnosis yang telah diidentifikasi dan diantisipasi. Pada langkah ini informasi data yang tidak lengkap dapat dilengkapi.
f.          Langkah VI (Pelaksanaan Asuhan)
Pada langkah ini dilakukan pelaksanaan asuhan langsung secara efisien dan aman. Pada langkah ke-6 ini, rencana asuhan menyeluruh seperti yang telah diuraikan pada langkah 5 dilaksanakan secara efisien dan aman. Perencanaan ini bisa dilakukan seluruh oleh bidan atau sebagian lagi oleh klien atau anggota tim kesehatan lainnya. Walau bidan tidak melakukan sendiri, ia tetap memikul tanggung jawab untuk mengarahkan pelaksanaanya.
g.         Langkah VII (Mengevaluasi)
Pada langkah ini, dilakukan keefktifan asuhan yang sudah diberikan. Hal ini yang dievaluasi meliputi apakah kebutuhan telah terpenuhi dan mengatasi masalah yang telah diidentifikasi.  
Evalusi dilakukan dengan pemantauan pasca tindakan
1)      Periksa kembali tanda vital ibu
2)      Catat kondisi ibu dan buat laporan tindakan
3)      Tuliskan rencana pengobatan, tindakan yang masih diperlukan dan asuhan lanjutan
4)      Beritahu pada ibu dan keluarga bahwa tindakan telah selesai
5)      Lanjutkan pemantauan ibu hingga 2 jam pasca persalinan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar